Rabu, 18 Mei 2016

Jejak yang masih tertinggal

Sibuknya anak-anak bersiap untuk bermain bola ditengah lebatnya hujan. Mereka mengencangkan ikatan tali sepatu. Seperti aku juga mencoba mengencangkan pikiran dan hatiku agar tidak mengingat masa lalu. Sederas apapun saat mereka bersiap dan membulatkan tekad takkan ada yg bisa menghalangi sekalipun gemuruh petir bersabung. Akupun juga sudah berniat untuk melupakan semuanya. Namun kenapa hujan selalu membawa aku ke lorong masa lalu yang hitam, pekat, seperti tanpa udara. Seperti tak ada kebahagiaan yang tersisa disana. Seberapa keras aku berusaha berhenti memasukinya sekeras itulah pikiranku melawannya.

Dua tahun tanpamu sudah terlewati. Aku merasa lebih baik tanpamu. Apa maksudmu tiba-tiba datang kembali, bertanya apa kabarku? Tentu saja aku lebih baik tanpamu. Apakah kamu cukup makan, tidur nyenyak, dan bahagia? Hahaha, jangan bertanya tentu saja aku lakukan dengan baik. Tanpa kamu suruh makan aku pun makan, tanpa kamu berkata tidur nyenyak ya aku pun akan nyenyak, bahagia? sudah pasti lebih bahagia lagi jika kamu tidak datang kembali.

Tenanglah. Aku tidak marah, kecewa apalagi menyesal denganmu. Itu semua salahku yang menggantungkan harapan terlalu tinggi. Kesalahanmu hanya satu yaitu pergi tanpa memberi tahu. Sudahlah, itu dulu aku sudah memaafkannya. Kamu berani muncul dan menyapaku saja aku berterima kasih. Setidaknya aku tahu kamu baik-baik saja, cukup makan, cukup tidur. Walapun aku sedikit terluka lagi.

Dua tahun tanpa kabar adalah kabar yang hebat ya? Iya, sepenuh hati sesungguhnya aku ingin membenci tapi entahlah aku yang terlalu positif thinking atau bodoh. "Dia sedang sibuk dengan pendidikannya mana ada waktu untuk mengabarimu". Padahal kamu sedang berkelana mencari yang baru.

Aku sudah menikam dengan tega hatiku. Tak apa aku yang menyakiti jangan khawatir aku bisa tanpamu ---- bohong besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar