Jika cinta adalah sebuah kesalahan lantas mengapa melalukan
itu berulang kali. Apakah aku bisa mencintaimu dengan kesalahanku ini. Setiap
hari aku selalu bertanya pada diriku apakah aku salah mencintaimu meskipun kamu
tak pernah mengetahuinya. Maaf, dan apakah ini juga kesalahan lagi saat aku
mencintaimu dengan caraku ini. Iya aku hanya bisa mencintaimu dengan diam,
menyelipkan namamu ketika ku bersujud, tangisku selalu ada untukmu, lalu aku
akan bersikap seolah tak ada apa-apa di hadapanmu. Apa sandiwaraku cukup hebat?
Tahukah kamu? Melihatmu setiap hari saja sudah cukup bagiku
apalagi saat aku memiliki kesempatan untuk duduk bersamamu, belajar denganmu,
dan menatapmu lebih jelas lagi. Saat kamu bersamaku apakah kamu tidak
merasakannya? Sedikit saja, aku berikan kamu materi untuk belajar dan berusaha
menyalinnya supaya kamu bisa membaca. Apa kamu anggap itu semua sebagai
perhatian seorang teman. Saat kita bersama ada kalanya aku sedih dengan
pernyataanmu kenapa aku harus mendengarkannya. Aku tidak ingin mendengarnya dan
seolah bahwa kamu masih sendiri. Disaat kamu diejek oleh teman-teman kamu
selalu mengatakan sudah memiliki pujaan hati. Benarkah?? Aku harap itu hanya
sandiwaramu. Aku mendengar jika itu kakak kelas kita yang selalu kau like
fotonya dan jika itu aku seolah kamu tidak pernah melihatnya bisakah kau
menyukainya sebagai seorang teman sekelas. Nampaknya aku tak pernah ada padamu.
Kali ini aku tidak muluk-muluk hanya ingin menjadi teman
curhatmu saat kamu merasa lelah, saat kamu merasa semua orang tuli. Bahuku
selalu tersedia untukmu. Hanya itu bisakah? Tak apa jika kamu menceritakan
wanita lain, tak apa kau menyukai selain aku, setidaknya saat kau terjatuh aku
ingin selalu ada untukmu. Mimpi! Bertegur sapa di kelas saja rasanya canggung.
Apalagi kamu harus berbagi urusan pribadimu. Nomor teleponmu saja aku mencuri
dari temanku. Pengecut sekali diriku, lantas apakah aku berani mengirim pesan
singkat hanya sekedar basa-basi. Tidak, tidak sama sekali lebih baik aku diam
dan menyimpannya saja dan berharap suatu hari kamu bisa mengirim pesan singkat
untukku.
Jika cinta memang sebuah kesalahan mengapa saat melihat yang
lain aku merasa bahwa cinta bukan kesalahan melainkan anugerah yang berjalan
mulus hanya tinggal bagaimana mereka menjalaninya. Tetapi cintaku selalu saja
sebuah kesalahan, iya salah jatuh pada seseorang tak pernah mengerti dan akupun
salah bagaimana cara aku mencintainya. Aku yang selalu memikirkan perasaanmu
tanpa pernah mengasihani diriku sendiri. Aku terlalu rapi menyembunyikannya
sampai kau tak mengetahui bahwa dibelakangmu pemujamu sangat hebat. Aku
pemujamu yang selau menunggu sebuah keajaiban hingga kamu tersadar atau tangan
cinta Tuhan yang mengulurkan bantuan. Setiap hari aku di dekatmu iya sangat
dekat tapi kamu tak pernah anggap aku. Hanya bisa menatap dari jauh, memperhatikan
setip gerik langkahmu, dan ketidakmungkinanku yang selalu aku semogakan.
Jika Tuhan selalu memaafakan kesalahan hambanya, lantas saat
kelak kamu tahu apakah kamu akan seperti Tuhan?. Semoga, tetapi jika sandiwara
ini berakhir dengan kamu mengetahui apakah kamu akan ada untukku atau kamu akan
menjauh? Tidak! Tetaplah seperti ini saat ini aku hanya mengharap uluran tangan
Tuhan. Menjengkelkan sekali jatuh hati ini disisi lain aku ingin kau tersadar
disisi lain aku tak ingin ini terbongkar. Mungkin karena aku wanita iya wanita
yang termindset wanita ditakdirkan untuk menunggu dan bukan pemula yang baik
terkecuali wanita yang sudah menghiraukan harga diri dan reputasi demi
seseorang yang ia cintai. Aku terlalu pemalu sebagai yang memulai untuk
mengatakan perasaan.
Seseorang mencintai dengan cara yang berbeda aku mencintamu
dengan seksama selalu kamu menjadi prioritas utama. Menjadi bodoh karena tak
bisa menguatarakannya saat dunia berkata cinta itu indah katanya. Itu kata
orang yang terbalaskan cinta. Akupun tahu bagaimana kamu membalas jika aku terlalu
rapi menyembunyikannya. Tuhan segeralah akhiri semua ini aku hanya ingin
melihat bagian akhir garis tanganmu.
Rangkaian kata yang tertulis atas apa yang kurasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar