RUMUS CINTA
Jadi anak otak kanan itu
senang tapi ya ada sedihnya juga, bahagia deh rasanya kalau otak kanan dan otak
kirinya jalan. Ya Kiren adalah anak bertipe otak kanan yang selalu saja
membenci rumus-rumus. Sebegitu bencikah Kiren? Ya, begitulah. Kiren selalu saja
mendapatkan nilai dibawah KKM setiap mapel yang berhungan dengan rumus.
Teettt...tettt....tettt.... bel masuk
berbunyi. “Sial aku belum mengerjakan PR” ungkap Kiren sambil berjalan memasuki
kelas. “Ren udah ngerjain PR belum?” tanya Caca. Mereka itu senasib
sepenanggungan sama-sama benci dengan yang berhubungan angka. “Belum ca, gimana
nih aku nggak bisa ngerjainnya”. “ Udah tenang aja kaya udah nggak biasa aja
kita nyontek.” Ungkap Caca sambil tersenyum. Merekapun segera meminjam buku temannya
yang pintar Matematika. Setiap pelajaran
Kiren selalu mempehatikan apa yang diterangkan oleh gurunya, tapi entah kenapa
jika berhubungan dengan angka dia selalu saja tidak bisa menangkap dengan baik.
Itulah yang menjadi masalah Kiren bahkan dia pernah melakukan Les private tapi
hasilnya sama saja. Setiap pelajaran Matematika Kiren selalu ingin cepat-cepat
jam belajar berakhir. “Baik pertemuan hari ini kita cukupkan saja, minggu depan
kita ulangan” ucap ibu Dila guru Matematika. Kiren paling takut dengan kata
Ulangan apalagi itu Matematika. Kiren menghampiri Putri “Put besok, aku ketempat kamu ya?”. “Mau
ngapain Ren? “Aku mau belajar Matematika, bolehkan?” tanya Kiren dengan penuh
harap.”Gimana ya Ren, sebenarnya aku enggak bisa tapi ya sudahlah. Hari mingu
ya jam 09.00” Kiren mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Putri.
Hari Rabu Kiren datang ke
rumah Putri bersama Caca yang notebene sama-sama benci dengan rumus. Mereka pun
belajar dengan serius agar nilai ulangan mereka bisa diatas KKM. Walaupun
mereka membenci yang berhubungan dengan angka tetapi mereka tetap bertanggung
jawab sebagai seorang pelajar karena tugasnya adalah belajar. Setelah Kiren
pulang dari rumah Putri, Kiren melanjutkan untuk belajar dan menghafalkan rumus. Karena yang Kiren
yakin Usaha keras itu takkan menghianati.
Hingga hari yang dinanti
telah tiba,”Ayo anak-anak masukan buku kedalam tas masing-masing!”. Keadaan
kelas mulai berjalan kondusif, Kiren mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Ulangan selesai, Kiren khawatir jika nilainya jelek namun satu hal yang
membuatnya bangga adalah Kiren tidak pernah mencontek saat ulangan walaupun
Kiren tidak bisa mengerjakannya. Setelah hasil ulangan dibagikan Kiren merasa
deg degan, setelah dilihat hasil ulangannya Kiren kecewa dan sedih. Caca pun
merasakan hal yang sama usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Kiren sesampainya di rumah
mengintrospeksi diri, apa yang membuat dia seperti ini. “Kiren bertanya-tanya
kenapa harus aku? Kenapa yang lain bisa tapi aku tidak? Aku benci rumus aku
benci rumus!! Kenapa harus ada Matematika dan Fisika pelajaran yang membosankan
dan menggerogoti kepalaku” ungkap Kiren penuh kesal. Kiren merasa frustasi dan
kecewa tidak ada semangat lagi di dalam diri Kiren. Dia menyadari bahwa rasa takutnya
pada rumuslah yang akan menghancurkan semua cita-cita Kiren, Kita tidak akan
bisa hidup tanpa menghitung dan yang paling Kiren ingat adalah Matematika dan
Fisika adalah pelajaran yang akan di UNkan nanti. Seperti batu yang terus
terkikis oleh air, keegoisannya dan rasa bencinya mulai surut. Hingga dia
berjanji akan bersungguh-sungguh untuk belajar Matematika dan Fisika jika dia
bisa mendapatkan nilai 100 maka dia akan sujud syukur di depan teman-temanya.
Gadget di ranjang tempat tidur berdering, sebuah pesan dari seseorang yang
Kiren sukai. “Ren, gimana nilai kamu?” sontak dia merasa sedikit bahagia karena
sang pujaan hati sms. Tyo yang berparas tampan, tinggi, putih, dan pintar dalam
segala bidang yang menjadi idam-idaman setiap perempuan untuk hal mata
pelajaran tentu saja hal yang mudah. Kiren membalas bahwa dia akan
menceritakannya saat hari Minggu di taman kota.
Kiren menunggu Tyo di taman
akhirnya Tyo memenuhi janjinya, Kiren pun menceritakannya semua yang dialaminya
tanpa rasa malu. Tyo memberi saran dan memberi semangat supaya Kiren belajar
bersama dia sepulang sekolah. Sempat Kiren menolak karena dia pernah Les
private namun hasilnya sama saja. Namun satu hal yang dia yakini bahwa usaha
keras itu tidak akan menghiantai. Berkat Tyo, orang yang disukainya dia
mengiyakan tawaran Tyo. Hatinya berdegub kencang seakan dihempaskan ke awan
karena Tyo orang yang disukainya selama
satu tahun perhatian dengannya. Sepulang sekolah Kiren selalu datang ke rumah
Tyo untuk belajar sesekali bersama Caca. Tyo adalah seseorang yang sabar dan
pengertian terhadap Kiren. Lambat laun secara mengalir Kiren mulai menyukai
rumus-rumus yang menjengkelkan itu, yang membuat kepala orang meledak.
Seiring berjalannya waktu,
karena seringnya intensitas pertemuan diantara mereka Tyo mulai jatuh hati pada
Kiren. Lain lagi dengan Kiren yang sudah menyukai Tyo dari setahun yang lalu.
Hingga pada akhirnya saat mereka berjanji untuk bertemu di taman kota Tyo
mengungkapkan perasaannya kepada Kiren. Bagaikan siang bolong tak ada angin tak
ada hujan tersambar petir , Kiren tidak
percaya jika Tyo menyatakan perasaannya. Kiren merasa bahagia dengan pipi yang
memerah dia menerima cinta sang pujaan hatinya yang dia idam-idamkan.
Hari kamis dahulu adalah
hari yang dibenci oleh Kiren ya tentu saja apalagi jika bukan karena pelajaran yang
dia benci. Namun saat ini berbalik 1800 Kiren sangat bersemangat untuk ulangan hari
ini. Hari ini adalah pembuktian dan penilaian atas apa yang telah Kiren lakukan
selama ini. Kiren merasa sangat optimis dan percaya diri mengerajkan soal
tersebut, bahkan dia tidak merasa kesulian saat mengerjakannya. Setelah jam
istirahat siswa berkerumunan melihat nilai hasil ulangan. Caca tidak menyangka
bahwa teman semejanya, Kiren mendapatkan
nilai sempurna. Sontak menghebohkan satu kelas dahulu Kiren jika ulangan
Matematika dan Fisika selalu mendapatkan nilai dibawah KKM sekarang dia
mendapatkan nilai sempurna. Kiren yang tidak percaya saat diberitahu Caca dia
menghampiri papan pengumunan dan melihat hasil jerih payahnya selama ini.
“Aaaaa...... aku dapat 100 Ca, aku senang banget. Ya Allah terima kasih” Kiren
langsung memenuhi nadzarnya tanpa ragu dia sujud syukur dihadapan anak-anak
yang sedang mengerumuni papan pengumunan. Semua teman-teman memberi ucapan
selamat pada Kiren. “Wah... aku bisa les sama kamu dong Ren” ucap Caca menggoda
Kiren.
Seperti hari-hari biasa,
Kiren datang ke rumah Tyo, Kiren sangat bersemangat untuk memberi tahu kabar
baik ini kepada pacarnya. “Tyo, maaf dan terima kasih ya” ucap kiren dengan
nada lirih “Maaf? Makasih untuk apa Ren, kamu kenapa sih?” . “Maaf telah
merepotkanmu selama ini, dan terima kasih karena kamu sudah mau membantu aku
dalam belajar selama ini. Karena nilai ulangan aku hari ini mendapatkan
nilaisempurna” jawabnya penuh kebahagiaan. “Iya, Ren sama-sama.” Namun disaat
kabar bahagia ini datang kabar tdak baik datang dari Tyo. Tyo memberitahu
kepada Kiren kalau dia akan pindah ke Bandung. Kiren merasa sedih karena
sebentar lagi dia akan jauh dari orang yang dia sayang. Mungkin hari ini adalah
hari terakhir Kiren bersama Tyo karena esok Tyo akan pindah. Tyo memberikan
sebuah bungkusan kecil sebagi ucapan selamat dan kenang-kenangan yang berisi
kalung. Kiren dengan mata berkaca-kaca dan dia tidak bisa menahannya hingga
tangis pecah dalam pelukan Tyo.Tyo memakaikan kalung pemberiannya ke Kiren. Tyo
berjanji bahwa dia tidak akan melupakan Kiren meski dalam hubungan jarak jauh.
Setelah kepergian Tyo ke
Bandung Kiren merasa kehilangan seseorang yang dia sayang. Hari-hari dilaluinya
tanpa sesosok Tyo yang perhatian dan baik hati. Karena jarak yang memisahkan
mereka, hubungan mereka menjadi renggang karena komunikasi yang tidak baik.
Hingga pada akhirnya mereka tidak pernah berkomunikasi satu sama lain. Kiren
sangat sedih kehilangan seseorang yang berjasa dalam hidupnya, dia berharap
suatu hari nanti dia akan bertemu kembali dengan Tyo. Berkat Tyo Kiren menyukai
pelajaran yang dia benci, dia telah mengubah mindsetnya yang dulu beranggapan
bahwa Matematika dan Fisika itu sulit. “Terima kasih Tyo kamu tidak akan aku
lupakan meski ragamu terpisah jauh tapi aku tahu kamu pasti masih mengingatku.
Aku berharap kita bisa betemu lagi, dan aku sadar bahwa apa yang kita benci
adalah apa yang harus kita sukai. Dengan cinta itulah butiran kerikil yang
tajam akan sirna jika kita berusaha. Ya usaha keras itu tidak akan menghianati
meskipun peluh menetes membasahi jiwa ini. Tuhan tidak akan menciptakan anggota
tubuh manusia jika tidak berguna, karena pada dasarnya otak kanan dan otak kiri
adalah saling melengkapi satu sama lainnya. Tergatung bagaimana kita
menyikapinya” Sebuah tulisan yang ditulis dari hati yang paling dalam oleh
Kiren.